jump to navigation

Cara Menjadi Seorang Pemimpin. September 30, 2007

Posted by IY@NZ in LEADERSHIP.
trackback

muhammad1.jpg

Setelah menjadi orang sukses tentunya kita ingin menjadi seorang pemimpin, yang menjadi masalah adalah pemimpin yang seperti apakah yang paling ideal untuk masa kini?.

Menurut MICHAEL HART seorang penulis buku yang cukup terkenal yang berjudul “SERATUS TOKOH PALING BERPENGARUH DALAM SEJARAH”, Michael Hart dalam bukunya menuliskan bahwa tokoh nomor satu yang paling berpengaruh dalam sejarah adalah Nabi Muhammad S.A.W, dia mengatakan “Muhammad bukan semata pemimpin agama, tetapi juga pemimpin dunia. Fakta membuktikan selaku penggerak kaum Arab(muslimin), pengaruh kepemimpinannya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu.”

Michael Hart menilai bahwa ada kombinasi yang tak tertandingi yang mampu di pegang secara seimbang oleh Nabi Muhammad S.A.W, yaitu kombinasi antara Agama dan Duniawi sehingga dipilihlah Nabi Muhammad S.A.W sebagai pribadi yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Nah kepemimpinan seperti apakah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad sehingga beliau manjadi tokoh yang berpengaruh dalam sejarah?.

Di bawah ini saya akan menuliskan Tingkatan-tingkatan kepemimpinan yang dapat menjadikan seorang pemimpin yang paling berpengaruh baik di dalam perusahaan, rumah tangga dan lingkungan sekitar kita.

  • Tingkatan pemimpin yang pertama : Pemimpin yang Dicintai.

Anda bisa mencintai seseorang tanpa harus memimpin mereka, akan tetapi untuk menjadi seorang pemimpin anda tidak bisa memimpin mereka apabila anda tidak mencintai mereka. Hal tersebut dapat melukiskan tentang seorang pemimpin yang harus dapat berhubungan baik dengan orang lain, pemimpin tidak dapat hanya menunjukkan prestasi kerjanya saja akan tetapi harus bisa mencintai dan di cintai oleh orang lain, hal ini adalah mutlak hukumnya dan tidak dapat di ganggu gugat, karena apabila tidak ada yang mencintai anda maka anda tidak akan memiliki pendukung yang akan mendukung anda. Cara agar kita dapat di cintai oleh orang lain sangatlah mudah, kita cukup senyum, mengingat nama dan mau mendengarkan perkataan orang lain, akan tetapi nabi Muhammad memiliki cara lain yaitu bersikap RAHMAN dan RAHIM, maksudnya adalah bersikap penuh kasih sayang tehadap orang-orang di sekitar kita terutama terhadap orang-orang yang akan kita pimpin.

Apabila kita dapat menunjukkan kasih sayang dan kejujuran yang tulus terhadap orang yang akan kita pimpin niscaya kita akan menjadi pemimpin yang di cintai dan di dukung oleh orang banyak.

  • Tingkatan pemimpin yang kedua : Pemimpin yang Dipercaya.

Seorang pemimpin adalah sosok yang memiliki INTEGRITAS yang TINGGI dan penuh KEBERANIAN serta TIDAK MENGENAL PUTUS ASA dalam menggapai apa yang menjadi cita-citanya. Apabila anda dapat memegang teguh hal tersebut maka anda akan KONSISTEN dalam melangkah dan mengambil keputusan, sehingga seseorang akan melihat anda sebagai sosok yang memiliki KOMITMEN dan menimbulkan KEPERCAYAAN mereka untuk mengikuti anda sebagai pemimpin mereka.

INTEGRITAS adalah kunci mutlak untuk menjadi seorang pemimpin yang di percaya oleh pengikutnya karena INTEGRITAS adalah sebuah kejujuran atau kesesuaian antara kata-kata dan perbuatan.

  • Tingkatan pemimpin yang ketiga : Pembimbing.

Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang dapat memberikan MOTIVASI bagi para pengikutnya bukan pemimpin yang hanya dapat memperluas kekuasaanya saja, karena seorang pemimpin akan dikatakan gagal apabila tidak dapar memiliki kader-kader penerus. Setelah menjadi pemimpin yang dicintai, lalu menjadi pemimpin yang di percaya maka langkah selanjutnya harus menjadi pemimpin yang dapat memberikan MOTIVASI bagi para pengikutnya, apabila kita sebagai pemimpin dapat memberikan MOTIVASI maka akan tercipta LOYALITAS yang dapat menghasilkan kader-kader penerus yang memiliki kesetiaan kepada kita. Menurut nabi Muhammad S.A.W ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam membentuk kader-kader penerus :

  1. Anak yang saleh, maksudnya adalah bagaimana kita dapat membina sumber daya manusia yang berkualitas sehingga menjadi kader yang berkualitas pula.
  2. Amal jariyah, maksudnya adalah bagaimana kita memberikan sarana dan prasarana bagi kader-kader kita di masa mendatang nanti.
  3. Ilmu yang berguna, maksudnya adalah kita harus dapat mengajarkan ilmu yang berguna bagi mereka di kemudian hari agar dapat menjadi penerus yang berkualitas.

Tingkatan yang ketiga adalah bagaimana kita dapat menjadi pemimpin yang dapat membimbing dan membina atau memberikan MOTIVASI kepada calon penerus kita, yaitu dengan cara membimbing dan memberikan contoh serta nasehat-nasehat yang berharga bagi mereka, atau dengan kata lain kita harus menjadi pemimpin yang memiliki AKHLAKUL KARIMAH, yaitu pancaran sifat ILAHIAH dan memiliki akhlak yang bermoral.

  • Tingkatan pemimpin yang keempat : Pemimpin yang Berkepribadian.

Menurut HARRY S TRUMAN “Disiplin pribadi adalah suatu hal yang datang terlebih dahulu. Pemimpin tidak akan berhasil memimpin apabila ia tidak dapat memimpin dirinya sendiri. Pemimpin harus dapat menjelajahi dirinya sendiri, mengenal lebih mendalam siapa diri sebenarnya. Sebelum memimpin keluar seorang pemimpin harus mampu untuk memimpin kedalam dirinya terlebih dahulu.”

Pekerjaan inilah sebenarnya yang paling berat, karena memimpin diri sendiri melawan hawa nafsu adalah refleksi dari kedisiplinan diri. Musuh yang paling besar adalah diri sendiri, apabila kita dapat mengendalikan diri sendiri niscaya kita akan menjadi pemimpin yang memiliki kepribadian yang tinggi, karena peperangan melawan diri sendiri adalah peperangan yang sesungguhnya antara ketakutan kita dan keberanian kita sendiri.

Apabila kita dapat memenangkan peperangan terhadap diri sendiri atau terhadap hawa nafsu maka kita akan menjadi seorang pemimpin yang memiliki kepribadian yang akan di ikuti oleh pengikut kita karena kita sudah menjadi seorang yang sangat berani dalam mengalahkan hawa nafsu atau keinginan diri sendiri, sahingga membentuk kita menjadi pemimpin yang tegas dan tidak plin-plan.

  • Tingkatan pemimpin yang kelima : Pemimpin Abadi.

Jaman sekarang memang sudah ada pemimpin yang dicintai, dipercaya, dan juga pemimpin yang membimbing dengan baik, namun apabila terbukti sudah tidak sesuai dengan hati nurani maka pengaruh sang pemimpin hanya akan sampai di situ saja. Maka manusia yang di karuniai hati oleh tuhan sebagai radar untuk menentukan hal-hal yang tidak sesuai dengan hati nurani, kita dapat segera ‘mendeteksi’ hal yang tidak berkenan sehingga dapat memutuskan untuk tidak mengikuti hal tersebut. Sifat ajaran dari nabi Muhammad S.A.W adalah intelektual dan spiritual yang pada prinsipnya mengajarkan manusia kepada kebenaran, kebaikan, kemajuan, dan keberhasilan. Metode seperti inilah yang dapat memberikan kebebasan bagi hati nurani untuk senantiasa mengikuti karena tidak adanya unsur pemaksaan dan memberikan kebebasan berpikir tanpa adanya unsur pemaksaan yang menekan atau mendikte perasaan kita. Seperti jawaban nabi Muhammad S.A.W terhadap pertanyaan Ali bin Abi Thalib Ra:

” Makrifat adalah modalku, akal pikiran adalah sumber agamaku,rindu kendaraanku, berdzikir kepada allah kawan dekatku”

” Keteguhan perbendaharaanku, duka adalah kawanku, ilmu adalah senjataku, ketabahan adalah pakaianku”

” Kerelaan sasaranku, faqr adalah kebanggaanku, menahan diri adalah pekerjaanku, keyakinan makananku”

” Kejujuran perantaraku, ketaatan adalah ukuranku,berjihad perangaiku dan hiburanku adalah dalam sembahyang.”

Pemimpin yang abadi adalah pemimpin yang dapat memberikan ketentraman di hati para pengikutnya tanpa adanya perasaan tertekan, terpaksa atau keragu-raguan. Apabila kita sebagai pemimpin dapat memenangkan hati pengikut kita maka niscaya kita akan menjadi pemimpin yang abadi. Pemimipin abadi adalah pemimpin yang dapat memimpin dengan suara hatinya dan diikuti pula oleh suara hati para pengikutnya.

Make Money Online

Comments»

1. roy - October 9, 2007

apakah pemimpin indonesia dari yang pertama hingga yang terakhir sudah dapat di kaategorikan sebagai pemimpin yng bijak? melihat berbagai permasalahan sosial senantiasa lebih memihak pada kaum borjuis, sehingga yang miskin makin miskin yang kaya makin kaya.

2. yanzmaul - October 9, 2007

menurut saya belum ada yang bijak mas, karena klo uda bijak maka pasti keadaan masyarakat tidak seperti saat ini, para pemimpin yang sekarang hanya mencari DUIT saja bukannya mensejahterakan orang2 yang mereka pimpin alias mikirin perut mereka sendiri.

3. khoplack - October 25, 2007

hanya sebagian kecil saja orang2 indonesia sekarang ini yg sudah mikirin perut orang lain dan “BERTINDAK”…sebagian lagi masih mikirin ajah tanpa bertindak…nahhh kebanyakan emang mikirin perut sendiri, apalagi orang tiap hari kehidupannya masih sangat susah, mereka untuk cari makan buat perut sendiri ajah usahanya dah setengah mati.
BTW, this is Indonesia, likes or dislikes..everythings linked!
Mo perubahan? Didik anak2 kita sedini mungkin and ajarin DISIPLIN!! Supaya generasi Indonseia 20 th lagi gak tambah lebih parah!

4. Sonny - April 10, 2008

bagus nih artikelnya… saya copas ya bro

5. IY@NZ - April 30, 2008

@ sonny

silakan copas aja bro,
dont worry be happy :)

6. bagaz - May 23, 2008

minimal jadi pemimpin buat diri sendiri aja ya mas…

numpang copas

7. IY@NZ - June 1, 2008

@ bagaz

Betul sekali bro, minimal harus bisa jadi pemimpin untuk diri sendiri.

silakan copas, smg bermanfaat :)

8. Makhfud - June 2, 2008

minta gambarnya ya…

Mengapa tidak mencari pemimpin yang sudah Allah lantik?
kita kan tinggal meminta pimpinannya.

http://whasid.wordpress.com/2008/05/26/mencari-pemimpin-pilihan-tuhan-di-akhir-zaman-2/

9. pika - June 29, 2008

thanks y atas artikelnya coz sya lagi berusaha menjadi pemimpin ….
add email saya y

10. sumarjo - July 20, 2008

kita tidak harus jadi pemimpin. Namun jika diberi amanat untuk memimpin jangan ditolak. Jadilah pemimpin dengan niat untuk memperbaiki kualitas pribadi. Bukankah seorang pemimpin pribadinya harus kuat, baik, karimah sehingga mampu mempengaruhi yang dipimpinnya.

11. Zhen - July 31, 2008

artikel Yang Sangat Bagus Sekali
kesimpulannya yaitu untuk menjadi pemimpin qt harus mencoba dari dri sendiri, memenangkan peperangan terhadap diri sendiri dan melawan hawa nafsu apbila qt dapat melawan kedua hal itu maka kita akan menjadi seorang pemimpin yang memiliki kepribadian dan dapat dicintai orang lain.

12. IY@NZ - August 22, 2008

@ Zhen

Betul sekali, insya allah klo bisa melakukan itu semua maka kita pasti dapat menjadi pemimpin untuk orang lain.

13. Makhfud - August 24, 2008

kalau kita bisa melakukannya, hm…selalunya kita tidak bisa melakukannya tanpa ada seorang pemimpin yang memandu kita.

Seorang Abu Bakar tidak akan jadi khalifah Rasyidin kalau tidak dipimpin oleh Rasulullah SAW.

Seorang Salahudin Al Ayyubi tak akan jadi pembebas palestin yang adil kalau tidak dipimpin oleh guru Mursyidnya.

Kita pun tidak akan jadi orang bertaqwa (hanya ornag bertaqwa yang sanggup jadi pemimpin yang adil) kalau tidak dipimpin oleh orang yang bertaqwa.

14. ivanz - November 27, 2008

I’AM FERY INTERESTING!!!!

15. badar - December 24, 2008

hebat 2
saya kagum sekali. apa yg anda terangkan memang benarsekali.

16. dorus - February 20, 2009

itu sih pemimpin di zaman dia, klo pemimpin dizaman sekarang gimana? khan dunie udh brubh, n zaman dlu tu mnusia msih lugu jd ikut arus.

17. rozin - March 29, 2009

thanks for the article

18. cahyo nugroho - May 3, 2009

andai jnegara kita ada pemimpin ky gtu, past negara kta ga akan seperti ini…..

19. wilda - June 28, 2009

Assalamu’alaikum wr.wb

syukran, artikelnya insyaAlloh bermanfaat bagi para pembacanya

IY@NZ - July 17, 2009

Amieen…

20. hamba allah - July 27, 2009

gimana klw orang lain pada saya misalkan pemimpin, sudah jelek gitu. jadi apakah mereka masih mau mendengarkan ku berbicara, n apakah yang harus saya lakukan. pada saat itu ??? mohon pencerahanya.

21. Cipto - August 19, 2009

jadi seorang pemimpin itu harus bisa jadi motivator yang dipimpin y? sebagaimana yang dilkukan Nabi Muhammad SAW,, untuk jadi motivator apa yang harus kita lakukan sedangkan dalam diri kita tidak mempunyai sifat tersebut jika kita menjadi seorang pemimpin..

22. ari - September 17, 2009

saya setuju dengan teman2. skg ini pemimpin yang umurnya diatas 40 tahun sebetulnya sudah tidak dapat dipakai lagi karna pola pikir mereka sudah tercema oleh pemimpin2 sebelumnya yang menghalalkan segala cara untuk jadi pemimpin dan setelah itu baru memperkaya diri sendiri kemudian bersenang dengan hasil korupsi. bagai mana bangsa ini bisa maju karena mereka tidak memikirkan saudara2 kita yang terlantar, paling tidak mengurangi jumlah kemiskinan dan jumlah penduduk. terimakasih

23. Jody - September 18, 2009

Artikel yg mantaf,
smga dpt menjdi
pedoman bwt para
cl0n pemimpin,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: