Vibrasi Positif dengan Reframing November 12, 2007
Posted by IY@NZ in The Secret.add a comment

Apa menurut Anda yang akan Anda rasakan jika Anda mampu berada dalam kondisi positif 24 jam sehari 7 hari seminggu?
Luar biasa tentunya, bukan?
Membayangkan diri terbebas dari belenggu *mood*dan beragam situasi eksternal yang seringkali kita anggap memegang kendali terhadap pikiran dan emosi jelas adalah hal yang amat menggembirakan. Sisi lain, berkaitan dengan vibrasi positif yang menjadi syarat penting dalam LoA, kondisi (*state*) positif amat memungkinkan kita untuk memancarkan vibrasi positif setiap saat kapan pun kita menginginkannya. Nah, salah satu teknik dalam NLP yang merupakan favorit saya untuk selalu berada dalam kondisi positif ini adalah *reframing*.
*Reframing* istimewa bagi saya karena kesederhanaannya (meskipun belum tentu mudah) namun memiliki efek yang besar sekalipun seringkali dilakukan hanya dengan menggunakan percakapan saja.
Prinsip dasar *reframing* adalah mengubah keberatan menjadi keuntungan. Dengan syarat keberatan tersebut adalah sesuatu yang tidak bisa diubah lagi. Misalnya, cacat tubuh, kejadian di masa lalu, anggota keluarga, dll yang memang di luar lingkaran pengaruh kita untuk berbuat sesuatu guna menjadikannya sesuai dengan keinginan kita.
Didasarkan pada asumsi bahwa di balik setiap perilaku/kejadian terkandung maksud positif, *reframing*mengajak kita untuk keluar dari kerangka berpikir ‘masalah’ dan melompat ke dalam kerangka berpikir ’solusi’ atau ‘tujuan/*outcome*’. Lalu, bagaimana kita bisa melakukannya? Ada cukup banyak teknik *reframing* yang hingga kini ditemukan oleh para pakar NLP.
Kumpulan teknik tersebut seringkali disebut sebagai *Sleight of Mouth Pattern *atau *Mind-Lines* *Pattern* dalam Neuro-Semantic. Namun dalam kesempatan kali ini, saya hanya akan membahas 2 jenis *reframing* yang paling dasar dan cukup ampuh untuk menjadikan kita senantiasa berada dalam kondisi positif: *context* dan *content reframing*.
*Context Reframing* “Tubuh saya terlalu tinggi!” Menggunakan jenis ini, kita memindahkan suatu hal atau kejadian dalam konteks ruang/waktu yang berbeda sehingga memunculkan makna baru yang lebih positif. Dalam contoh keberatan di atas, maka kita bisa bertanya, “Dalam konteks apakah tubuh yang tinggi tersebut menjadi keuntungan?” Dan beragam jawaban pun bisa kita munculkan mulai dari cocok sebagai olahragawan, tidak memerlukan tangga untuk mencapai tempat yang tinggi, tidak terhalang ketika nonton konser, sampai pada mendapatkan udara yang lebih segar karena udara yang berada di atas lah yang masih murni dan menyegarkan.
Bagaimana dengan, “Tubuh saya terlalu pendek!” Dengan pertanyaan yang sama kita bisa menemukan banyak konteks seperti lebih lincah dalam bergerak, lebih hemat dalam membuat pakaian (apalagi jika si orang ini memiliki orientasi finansial yang tinggi), dll. Jika Anda masih ingat dengan pembahasan kita tentang Meta Model, maka * reframing* jenis ini amat pas jika digunakan pada kalimat keberatan yang menggunakan pola *universal quantifiers*.
*Content/Meaning Reframing* Berbeda dengan *context reframing*, pada jenis ini kita menggali makna lain yang lebih positif dari suatu hal atau kejadian tanpa memindahkan atau mengubah kejadiannya. “Anak buah saya sulit untuk diajak kerja cepat! Tidak sabar saya dibuatnya.”
Menggunakan *content reframing*, kita bisa bertanya, “Apa makna lain yang positif dari anak buah yang sulit diajak untuk bekerja cepat?” Seketika, kita pun dapat menemukan pertanyaan baru seperti, “Bukankah itu berarti mereka mengerjakan pekerjaan dengan hati-hati?” Dan BUM! Makna baru pun kita dapatkan. Dengan *frame *ini, sang atasan dapat lebih fokus untuk mendayagunakan anak buahnya agar dapat menghasilkan pekerjaan dengan kualitas yang lebih tinggi alih-alih pusing dengan kelambatan mereka.
Nah, apa yang bisa kita lakukan dengan keberatan ini: “Produkmu bagus, tapi harganya terlalu mahal!” Yak, tepat.
Salah satunya, “Benar. Kami memang tidak ingin mengorbankan kualitas hanya demi harga jual yang murah. Bukankah Anda juga demikian?”
Pertanyaan: Sama kah *reframing * dengan *positive thinking*? Jawaban saya: ya dan tidak. Bahwa kita mencari makna yang lebih positif itu benar. Namun *reframing* tidak sekedar mencari makna yang positif, ia adalah usaha untuk mencari makna positif yang *empowering* bagi kita. Loh, memangnya ada berpikir positif yang tidak *empowering*? Tentu ada. Misal, jika rekan Anda mengeluh, “Istri saya sangat posesif sehingga selalu menelepon saya setiap jam!” dan Anda mengatakan kepadanya, “Bukankah itu berarti ia perhatian kepada Anda?”. Ini adalah sebuah usaha untuk berpikir positif, namun pertanyaan saya, “Apakah Anda mau diperhatikan dengan cara seperti itu?” *Reframing* seperti, “Bukankah itu sinyal untukmu untuk dapat lebih peka dan mencari tah apa penyebabnya?” barangkali lebih tepat karena bersifat *action oriented*.
Nah, lalu apa kaitannya dengan vibrasi positif dalam LoA? Sangat erat. Jika Anda ingin menjadi ‘magnet’ yang memiliki daya tarik positif yang kuat, maka Anda pun harus memancarkan aura positif yang kuat pula.
Tanpa perlu teknik macam-macam yang *njelimet* dan memakan waktu, Anda bisa menjadi pribadi yang lebih positif dengan *reframing*. Ketika seseorang menyalip Anda di jalan dengan kasar, misalnya, alih-alih membiarkan emosi negatif Anda meluap Anda bisa mengatakan, “Barangkali ia memang sedang buru-buru karena ada anggota keluarganya yang sakit.” Beres, kan?
Atau, Anda pulang kantor dan jalanan macet luar biasa, “Wah, kesempatan buat baca buku dan menikmati musik nih.” Yang terakhir ini sering sekali saya lakukan sehingga saya tidak lagi merasakan kemacetan sebagai sebuah musibah. Sederhana, kan? Tanpa perlu mengotak-atik kejadiannya, kita bisa menjadikan kejadian apapun lebih bermakna.
*Well*, memang tidak semua hal akan terselesaikan dengan *reframing *semata. Namun paling tidak kita bisa berpikir lebih jernih untuk kemudian mencari solusi yang lebih tepat. Hebatnya lagi, jika Anda mempelajari beragam teknik-teknik NLP, Anda akan menemukan bahwa yang dilakukan NLP adalah *reframing* terhadap apa yang sudah seringkali kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Tengok saja NLP * Presuppositions*: Makna dari komunikasi ada pada respon yang kita dapatkan. Di balik setiap perilaku pasti ada maksud positif. Tidak kata gagal, yang ada hanyalah umpan balik. Tidakkah ini semua adalah *reframing* yang *excellent*? Bahkan, kita pun sudah seringkali melakukannya tanpa disadari. Anda ingat pernah mengatakan, “Ya, kita ambil hikmahnya saja lah”. Hey, bukankah itu *content reframing*? Anda boleh tersenyum sekarang menyadari hal ini.
Anda adalah *reframer*alamiah dan karenanya juga adalah pengirim vibrasi positif alamiah pula.
Salam Vibrasi Positif! — Salam Street Smart NLP!
Oleh : Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society : idnlpsociety@yahoogroups.com
Tell a Friend
D.U.I.T For Your Life ! October 7, 2007
Posted by IY@NZ in The Secret.2 comments

Pasti ada yang bingung dengan maksud dari judul postingan saya, bagi yang sudah mengerti silakan di baca lagi dan bagi yang bingung saya akan membantu menghilangkan kebingungan anda.
Pada dasarnya manusia hidup hanya untuk satu tujuan dan tujuan itu tak lain dan tak bukan adalah D.U.I.T, pasti ada yang langsung berfikir ” klo hal itu sih semua orang udah tau, kita memang hidup untuk mencari DUIT, klo ndak punya duit gimana kita mau bayar biaya untuk makan, minum, sekolah, pajak, dll.” Klo memang benar ada yang berfikiran seperti itu berarti orang tersebut ilmu KEHIDUPANNYA masih dangkal
hehehe… just kiding jangan marah ya…
Maksud saya dalam hal ini bukanlah DUIT yang bahasa bekennya MONEY lho ya !! Yang saya maksudkan DUIT disini adalah :
- D = DOA, karena manusia pada dasarnya sudah di perintahkan oleh tuhan untuk berDOA dalam segala hal, baik itu ketika menimpa musibah, mendapatkan rejeki ataupun ketika menginginkan sesuatu manusia sudah diwajibkan untuk berDOA, karena DOAitu ada banyak macamnya(doa minta rejeki, doa minta pengampunan, dan doa bersyukur atas berkahNya). Sebagai manusia yang beragama dan memiliki kepercayaan terhadap suatu Dzat yang lebih tinggi dari pada manusia dan alam semesta maka kita diwajibkan untuk berDOA selama kita masih bernafas di dunia ini.
- U = USAHA, setelah berdoa kita sebagai manusia diwajibkan untuk berUSAHA dalam hidup ini, karena tanpa berUSAHA maka kita tidak akan dapat mencapai apa yang kita inginkan, karena mustahil sesuatu yang kita inginkan tiba-tiba jatuh dari langit (pasti mengerikan terutama apabila kita menginginkan rumah yang besar dan tiba-tiba jatuh dari langit menimpa kita, bayangkan apa yang akan terjadi, yeng terjadi adalah kita pasti GEPENG alias PENYET karena tertimpa rumah tersebut). Maka dari itu TUHAN amatlah sangat penuh kasih dan sayang terhadap kita karena apa yang kita inginkan tidak tiba-tiba jatuh dari langit melainkan kita dapatkan dari hasil kita berUSAHA.
- I = IKHTIAR, makna dari kata IKHTIAR dapat anda baca dari contoh kisah ini dan saya harap dari kisah tersebut anda yang membacanya dapat mengambil kesimpulan tentang apa itu makna IKHTIAR sesungguhnya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari selama nafas masih di kandung badan. Inilah kisah tersebut :
Selesai berlibur dari kampung, saya harus kembali ke Jakarta. Mengingat jalan tol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama. Terasa mengantuk, saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan.”Abang mau beli kue?” Katanya sambil tersenyum. Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya. “Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan,” jawab saya ringkas. dia berlalu.
Begitu pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Lebih kurang 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri pelanggan lain, sepasang suami istri sepertinya. Mereka juga menolak, dia berlalu begitu saja.
“Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?” tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya.
“Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih,” kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu dia tanya, “Tak mau beli kue saya Bang, Pak… Kakak atau Ibu.” Molek budi bahasanya.
Pemilik restoran itupun tak melarang dia keluar masuk restorannya menemui pelanggan. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.
Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Anak
itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang sama. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi berdiri di tepi mobil. Dia menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan kaca jendela. Membalas senyumannya.
“Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlukan kue saya untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang,” katanya sopan sekali sambil tersenyum.
Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya.
Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya. “Ambil ini Dik! Abang sedekah… Tak usah Abang beli kue itu.” Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima deretan kedai. Saya gembira dapat membantunya.
Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah terperanjatnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp 20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua-dua matanya. Saya terkejut, saya hentikan mobil, memanggil anak itu. “Kenapa Bang, mau beli kue kah?” tanyanya.
“Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan ke Adik!” kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.
“Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat Bang!” katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.
“Abang mau beli semua kah?” dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata. “Rp 25.000,- saja Bang….” Selepas dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan terus pergi. Saya perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.
Dalam perjalanan, baru saya terpikir untuk bertanya statusnya. Anak yatim kah? Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidiknya? Terus terang saya katakan, saya beli kuenya bukan lagi atas dasar kasihan, tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat menjadikan kerjanya suatu penghormatan. Sesungguhnya saya kagum dengan sikap anak itu. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya.
- T = TAWAKAL, hal ini adalah hal yang paling akhir yang harus kita lakukan sebagai manusia yang berIMAN dan berAGAMA. TAWAKAL adalah PASRAH, pasrah yang seperti apakah yang dimaksud?. Pasrah disini adalah pasrah yang kita lakukan apabila sudah melakukan semua hal yang saya sebutkan di atas tadi (Doa, Usaha, dan Ikhtiar). Kita sebagai manusia wajib untuk berTAWAKAL karena pada akhirnya yang memberikan hasil dan yang menentukan hasil akhir dari semua yang kita lakukan tadi (Doa, Usaha, dan Ikhtiar) adalah ALLAH yang Maha Segala-galanya dan yang menguasai seluruh semesta beserta seluruh ciptaanya.
“Allah mengilhamkan sukma kefasikan dan ketaqwaan, beruntung bagi yang mensucikanNya, merugi bagi yang mengotoriNya, Subhanallah”
Nah bagi yang sudah membaca artikel yang saya tuliskan di atas, semoga menghilangkan kebingungan dan menghilangkan kesalah pahaman tentang makna DUIT bagi kita manusia yang BERIMAN DAN BERAGAMA, insya allah apabila kita hidup dengan tujuan D.U.I.T maka hidup kita akan lebih bermakna dan bermanfaat tanpa adanya kehampaan di dalam diri kita, AMIN.
Cara Menjadi Orang Sukses. September 19, 2007
Posted by IY@NZ in The Secret.47 comments
Banyak orang yang ingin menjadi sukses, entah itu dalam bidang keuangan, percintaan, dan banyak hal lainya tergantung pribadi masing-masing. Pada dasarnya rahasia terbesar untuk meraih semua hal itu sudah ada sejak jaman dulu, hanya saja seiring dengan berkembangnya jaman manusia semakin melupakan cara-cara tersebut. Nah dengan tulisan ini saya mencoba membantu untuk mengingatkan kembali bagaimanakah cara menjadi orang sukses.
Insya allah apabila cara-cara ini dijalankan niscaya kita akan menjadi orang yang sukses dan sesuai dengan apa yang kita idam-idamkan.
- cara pertama : ASK.
Mintalah! kepada siapa?
Seringkali kita meminta tetapi meminta tidak kepada siapa yang tepat, padahal sejak jaman dulu semua agama telah mengajarkan:
“Mintalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan”(Al-mu’min : 60)
“Apapun yang anda minta dalam doa dan iman akan anda terima”(Mateus 21:22)
“Apapun yang anda inginkan, ketika anda Doa-kan & percaya bahwa Anda sudah
menerima maka akan anda miliki”(markus 11:24)
Jadi kita perlu ingat bahwa meminta atau berdoa adalah langkah awal untuk mencapai apa yang kita inginkan, dan meminta kepada siapa? Janganlah kau lupa untuk meminta kepada ALLAH.
- cara kedua : BELIEVE.
Apabila anda sudah meminta maka percayalah bahwa permintaan anda akan di kabulkan karena orang yang percaya dan penuh keyakinan niscaya adalah orang yang akan di beri berkah.
“Lihat hal-hal yang anda inginkan sudah menjadi milik anda, dan yakin bahwa hal-hal tersebut akan datang waktu anda perlu.Dan biarkan mereka datang. Jangan takut & kuatir. Jangan pikirkan kekurangan anda. Pikirkan bahwa hal-hal yang anda inginkan sudah menjadi milik anda.”(Robert Collier 1885-1950)
“ Anda tidak tahu bagaimana, yang anda inginkan akan muncul, anda akan menarik jalannya.”(Bob Proctor)
Bagi orang yang meminta dan percaya maka entah bagaimana akan muncul jalannya, oleh karena itu maka disebut dengan kuasa illahi, karena kita tidak pernah tahu apa yang di rencanakanNya, kita sebagai manusia hanya perlu berdoa dan mempercayai-Nya, niscaya akan di kabulkan olehNya.
- cara ketiga : RECEIVE.
Apabila kita telah menjalankan kedua cara yang pertama maka yang selanjutnya yang harus kita lakukan adalah menerima hasil dari permohonan kita.
“Rasakan betapa nikmatnya. Rasakan seperti ketika anda sudah menerimanya. Rasakan sekarang.”( Lisa Nichols)
Yang dimaksud dengan menerima adalah apabila kita bertindak seolah-olah sudah menerimanya maka kita harus melakukan tindakan agar semua keinginan kita tercapai, karena apabila kita hanya meminta, percaya dan tidak melakukan tindakan mustahil kita akan mendapat hasilnya. Karena manusia yang mau bertindak adalah manusia yang akan di beri karuniaNya.
“Ambil langkah pertama dalam Iman & Keyakinan. Anda tak perlu melihat semua anak tangga. Just take the First step.”(Dr. Martin Luther King Jr. 1929-1968)
Nah, pada umumnya akan muncul pertanyaan-pertanyaan sesudah melaksanakan 3 cara tersebut, “Setelah itu berapa lama akan kita capai semua yang kita inginkan?”
“Saya tidak punya buku aturan yang menyatakan akan tercapai dalam 30 menit, 3 hari, atau 30 hari. Ini adalah bagaimana Anda bersatu dengan alam semesta itu sendiri”(Dr. Joe Vitale)
Yang ada hanya cara untuk mempercepat proses, yaitu :
- BERSYUKUR.
- VISUALISASI.
- GIVE.
- RELA DAN IKHLAS.
demikian yang bisa saya sharingkan untuk para pembaca, mengenai penjelasan bagaimana mempercepat proses akan saya lanjutkan di lain kesempatan, semua yang saya tuliskan ini saya dapatkan dari buku The Secret dan hasil dari saya mengikuti seminar TungDesemWaringin. Semoga bisa bermanfaat bagi yang membacanya. DAHSYATT!!!